13 Langkah Sukses Usaha Pembibitan Belut


13 Langkah Usaha  Pembibitan Belut

Cara Budidaya dan Ternak - Langkah Usaha Pembibitan Belut. Untuk memperkecil resiko kerugian atau kegagalan dalam usaha, perlu dipahami langkah-langkah kerja dalam pembibitan belut. Langkah-langkah tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan kegiatan pembibitan (persiapan kolam, persiapan indukan, penebaran indukan, pemijahan, penetasan, pemeliharaan bibit, pemanenan, penyortiran, karantina, pengemasan, dan pengiriman ­), serta evaluasi.

Cara Budidaya Belut
Pembibitan Belut
A.    LANGKAH 1: PERENCANAAN
Setiap kegiatan usaha tentu diharapkan sukses. Kesuksesan dapat diukur jika kita telah menetapkan target sebelum dilakukan kegiatan usha tersebut, yaitu membandingkan hasil usaha dengan target yang telah ditetapkan . Jika hasil usaha minimal sama dengan target yang telah ditentukan maka kegiatan usaha yang dilakukan dapat dikatakan berhasil. Untuk mencapai target yang telah ditetapkan, tentu diperlukan langkah-langkah dan strategi yang benar. Strategi harus dibangun berdasarkan data dan pengalaman serta melalui proses analisis. Selain pengalaman pribadi pelaku usaha , juga bisa didapatkan dari orang lain yang telah lebih dahulu melakukan kegiatan usaha sangat membantu dan bermanfaat bagi pelaku usaha karena memperkecil resiko kegagalan usaha.
Pengalaman orang lain bisa didapatkan dari hasil pengalaman maupun dari buku yang ditulis oleh orang yang telah berpengalaman. Hasil analisis data dan pengalaman akan menentukan pilihan alternatifstrategi terbaik yang akan dilaksanakan untuk mencapai target yang telah dilakukan. Seluruh kegiatan pengumpulan data dan pengalaman serta penentuan langkah strategi tersebut sebaiknya dituangkan dalam suatu perencanaan usaha. Perencanaan kegiatan usaha budidaya pembibitan belut meliputi rencana waktu pelaksanaan, lokasi budidaya, skala budidaya, tenaga kerja, sarana dan prasarana, biaya usaha,strategi pelaksanaan kegiatan usaha, waktu pemanenan, target pemasaran, serta target keuntungan.
1.      Rencana Waktu Pelaksanaan
Di alam, belut mempunyai siklus hidup dan reproduksi yang relative telah perpola. Belut akan menalami masa-masa perkawinan pada awal-awal musim hujan, yaitu sekitar bulan oktober hingga januari. Hal tersebut berkaitan dengan penyediaan habitat yang mendukung terjadinya pemijahan dan penetasan anak belut, yaitu terjaminnya air bersih dan nutrisi yang diperlukan oleh anak-anak belut.
Rencana waktu pelaksanaan kegiatan usaha pembibitan belut sebaiknya memperhatikan hal tersebut, kecuali pelaku usaha telah mempunyai teknologi yang dapat menyiasati kondisi alam. Misalnya, dengan membuat hujan buatan atau menciptakan kondisi seperti musim hujan.
2.      Rencana Lokasi Pembibtan
Lokasi budidaya merupakansalah satu indicator yang akan menentukan keberhasilan pemijahan. Belut akan mengalami pubertas dan mau melakukan pemijahan jika mempunyai habitat yang tenang, cukup nutrisi, dan kualitas air yang ideal. Penetapan lokasi budidaya yang tidak mendukung ketenangan, suplai nutrisi yang cukup, dan sirkulasi air yang baik akan menganggu proses pemijahan belut.
3.     Rencana Skala Pembibitan
Sebelum memulai usaha, sebaiknya ditentukan terlebih dahulu skala usaha yang akan dilakukan. Hal tersebut penting karena akan berkaitan dengan lokasi, biaya, tenaga kerja, dan sebagainya. Skala pembibitan juga menentukan kelayakan usaha karena dalam usaha biasanya akan mencapai break even point (BEP) jika memenuhi angka minimal tertentu.
4.     Rencana Tenaga Kerja
Tenaga kerja adalah factor utama yang akan menentukan berhasil atau tidaknya suatu usaha. Jika tenaga kerja yang akan dipekerjakan adalah tenaga kerja yang kompeten, mempunyai integritas dan kapabilitas yang tinggi di bidangnya maka 50% usaha telah berhasil. Namun, jika tenaga kerja yang dipekerjakan adalah kebalikannya maka 90% usaha tersebut telah gagal.
Sebelum memulai usaha pembibitan belut, sebaiknya direncanakan jumlah, criteria pengetahuan, dan keterampilan orang yang akan di pekerjakan . Tenaga kerja tersebut meliputi tenaga ahli, tenaga terampil, dan tenaga kasar. Tenaga ahli adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang seluk-beluk pembibitan secara akademis. Tenaga terampil adalah orang yang telah mendapatkan pelatihan khusus dibidang pembibitan. Tenaga kasar diperlukan untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan pengangkutan dan sebagainya yang lebih banyak membutuhkan kekuatan fisik. Kebutuhan tenaga kerja biasanya sebanding dengan skala usha yang dilakukan.
5.     Rencana Pengandaan Sarana dan Prasarana
Seluruh kegiatan usaha tentu membutuhkan sarana dan prasarana pendukung. Sarana yang harus disiapkan terlrbih dahulu sebelum, selama, dan pasca pembibitan, mungkin memiliki spesifikasi yang berbeda dengan sarana yang diperlukan untuk kegiatan usaha yang lain. Demikian pula prasarana pendukung kegiatan usaha pembibitan belut mungkin akan berbeda dengan prasarana untuk usaha lain. Untuk mengetahui syarat, kondisi, dan sebagainya dalam rangka menunjang kegiatan usaha pembibitan belut perlu dilakukan inventarisasi kebutuhan sarana dan prasarana. Inventarisasi sarana dan prasarana dituangkan kedalam rencana pengandaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana . hal ini dilakukan agar tidak menjadi hambatan pada waktu pelaksanaan kegiatan.
6.     Rencana Anggaran dan Biaya Usaha
Tidak ada satu kegiatan usaha yang tidak memerlukan dukungan pembiayaan, walaupun mungkin besar kecilnya sangat tergantung pada jenis dan skala usaha itu sendiri. Demikian juga dalam hal usaha pembibitan belut, tentu membutuhkan biaya. Biaya tersebut meliputi biaya untuk investasi, biaya tetap, dan biaya tidak tetap. Biaya investasi meliputi biaya untuk pengandaan sarana dan prasarana . misalnya, untuk pembelian atau sewa lahan, pembuatan kolam, pembelian pompa air. Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan secara tetap dan continue selama proses kegiatan usaha, misalnya biaya tenaga kerja. Biaya tidak tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan  berkaitan pelaksanaan usaha yang akan dijalankan. Dengan demikian, besar dan kecilnya sangat tergantung dari skala usaha, misalnya pembelian pakan, pembelian induk. Rencana pembiayaan juga meliputi rencana untuk mendapatkan modal usaha. Misalnya, usaha patungan yang berarti usaha tersebut akan dimodali secara patungan, atau dengan peminjaman bank. Rencana biaya dapat dipakai untuk mengukur kemampuan pembiayaan sehingga dapat dipakai untuk menentukan seberapa besar skala usaha yang hendak dijalankan.
7.     Rencana Strategi Pelaksanaan Usaha
Kegiatan usaha dapat diibaratkan sebuah peperangan. Dalam peperangan target utama adalah memenangkan peperangan. Untuk memenangkan peperangan maka harus diketahui siapa musuhnya, seberapa besar kekuatan musuhnya, dan strategi apa yang akan dilaksanakan oleh musuh. Setelah diketahui, kita harus menyusun strategi untuk menghadapi musuh tersebut hingga mendapatkan kemenangan.
Dalam kegiatan usaha pembibitan belut, musuh adalah pasar dan kegagalan budidaya itu sendiri. Target utama adalah penguasaan pasar dan keberhasilan budidaya pembibitan. Untukdapat  menguasai pasar, perlu membangun strategi sehingga seluruh hasil bididaya akan terserap pasar. Untuk meraih keberhasilan budidaya, perlu membangun strategi sehingga tingkat keberhasilan dan volume budidaya akan tinggi.
Strategi untuk meraih pangsa pasar dan menaikkan tingkat keberhasilan budidaya harus dituangkan dalam suatu rencana yang bisa dijalankan oleh setiap elemen yang terlibat dalam usaha tersebut. Demikian juga target dan strategi usaha jangka menengah dan jangka panjang perlu ditetapkan sebuah rencana strategi jangka menengah dan jangka panjang.
Setiap pelaku bisnis pasti berharap agar bisnisnya akan berlansung terus dan berkembang hingga akhir hayat. Bahkan, dapat diwariskan kepada generasi penerusnya. Untukj dapat terlaksan cita-cita tersebut, tentu tidak cukup hanya memikirkan agar bisnisnya dapat berlangsung sehari atau sebulan atau setahun lagi. Akan tetapi, lebih dari itu harus dipikirkan dan direncanakan agar bisnis tersebut dapat berkembang dan terus berlansung selama lima, sepuluh, atau dua puluh lima tahun mendatang. Agar cita-cita tersebut tercapai dengan baik maka perlu pandangan jauh kedepan. Cara berfikir yang jauh ke depan ini perlu dituangkan dalam suatu rencana jangka panjang atau visi perusahaan.
8.     Rencana Waktu Pemanenan
Waktu pemanenan adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh pembudidaya belut. Pada waktu panen itulah dapat diketahui tingkat keberhasilan budidaya. Jika hasil pembibitan kurang dari yang diharapkan, berarti tingkat keberhasilan sangat rendah atau dapat disebut gagal panen. Sebaliknya, jika hasil panen sama atau lebih tinggi dari yang diharapkan maka dapat disebut sebagai berhasil. Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal dan sesuai dengan target produksi yang diharapkan, penentuan waktu panen yang tepat akan berdampak pada tingkat keberhasilan itu sendiri karena berkaitan dengan biaya produksi dan tujuan pemasaran. Semakin lama penentuan waktu panen, berarti ukuran hasil panen dan biaya produksi juga akan meningkat.
9.     Rencana Pemasaran
Sebelum memulai usaha pembibitan belut, sebaiknya dilakukan survey tingkat permintaan bibit belut di pasar. Tingkat permintaan bibit belut perlu dilakaukan agar hasil panen akan terjamin penjualannya. Ada baiknya menjamin relasi dengan pasar yang disekitarnya nanti dapat menampung hasil panen.
10.  Rencana Target Keuntungan
Setiap usaha pasti mengharapka keuntungan. Untuk mengetahui apakah usaha tersebut akan menguntungkan atau tidak, maka perlu dilakukan analisis kelayakan usaha. Semaki besar keuntungan yang dapat diraih, berarti usaha tersebut semakin layak untuk dijalankan. Rencana target keuntungan berkaitan dengan skala dan waktu usaha yang dilakukan. Ada usaha yang baru akan menghasilkan keuntungan dengan usaha dan jangka waktu tertentu yang mungkin berbeda dengan usaha lainnya. Usaha budidaya pembibitan belut seperti usaha bisnis lainnya yang perlu dianalisis kelayakan usaha. Dengan demikian, dapat diketahui dan ditentukan margin keuntungan yang akan diraih setelah usaha tersebut dijalankan dalam skala dan kurun waktu tertentu.
B.     LANGKAH 2 : PERSIAPAN WADAH PEMBIBITAN
Setelah rencana ditetapkan, langkah selanjutnya adalah pelaksanaan dari rencana yang telah ditetapkan tersebut. Hal yang pertama kali harus dilakukan untuk memulai kegiatan pembibitan belut adalah pesiapan kolam. Kolam yang harus disediakan adalah kolam induk, kolam pemijahan, dan kolam pendedaran. Kolam induk adalah kolam yang diperuntunkan sebagai tempat untuk merangsang calon induk agar mencapai tahap matang  gonad, yaitu masa induk siap melakukan pemijahan. Kolam pemijahan adalah kolam yang diperuntunkan bagi induk belut untuk melakukan pemijahan, penetasan, hingga bibit belut mencapai usia dan ukuran panjang tertentu. Kolam pendedaran adalah kolam yang diperuntunkan bagi bibit belut hingga mencapai usia dan panjang tertentu sehingga sudah siap untuk dipindahkan ke kolam-kolam pembesaran.
Budiya Belut Menggunakan Drum Bekas
Media Pembibitan Belut dengan Drum
Persiapan kolam sebaiknya dilakukan antara 1-3 bulan sebelum penebaran indukan. Hal tersebut dilakukan agar media budidaya benar-benar siap. Selama ini banyak pembudidaya yang gagal karena gagal dalam menyiapkan media yang sesuai dengan kondisi belut.


C.    LANGKAH 3 : PERSIAPAN INDUK
Induk belut berperan besar terhadap kuantitas bibit belut yang akan dihasilkan. Untuk mendapatkan hasil yang baik diperlukan induk yang baik dan unggul, yaitu sehat, cepat berkembang biak, dan mampu berkembang secara maksimal. Induk yang dipilih melipti induk jantan dan induk betina. Persiapan induk sebaiknya dilakukan jika kolam budidaya betul-betul telah siap. Induk yang disiapkan sebaiknya memperhatikan perbandingan jumlah belut jantan-betina (satu pejantan berbanding empat atau lima betina), usia induk, dan skala luas kolam. Selain itu, pemilihan jenis belut yang akan di budidayakan juga menentukan tingkat keberhasilan budidaya.
D.    LANGKAH 4: PENEBARAN INDUKAN
Setelah kolam dan induk siap, langkah berikutnya adalah penebaran indukan kedalam kolam indukan. Penebaran indukan dilakukan dengan memperhatikan waktu dan skala budidaya. Waktu penebaran sebaiknya dilakukan pada sore hari dengan perbandingan jumlah induk jantan dan betina 1:4-5 ekor/m2 luas kolam.
Jika kondisi kolam cocok, biasanya calon induk belut akan siap memijah ata mencapai kondisi matang gonad dalam waktu 2-7 hari. Matang gonad adalah suatu kondisi belut jantan dan betinasiap memijah. Selama masa menunggu pemijahan jangan sekali-kali mengusik termasuk pemberian pakan. Usikan dapat menyebabkan indukan merasa terganggu dan tidak nyaman sehingga tidak lagi mau melakukan pemijahan.

E.     LANGKAH 5: PEMIJAHAN
Jika belut sudah dalam keadaan matang gonad langkah selanjutnya adalah memindahkannya ke kolam pemijahan. Kolam pemijahan adalah kolam yang dipersiapkan khusus untuk induk belut melakukan pemijahan. Jika habitat kolam dan lingkungan kolam cocok, biasanya induk yang matang gonad akan segera melakukan pemijahan. Saat itu,induk belut betina mengeluarkan telur telurnya yang berjumlah 100-200 butir untuk selanjutnya dibuahi oleh belut jantan.
Cara Mudah Ternak Belut

F.     LANGKAH 6: PENETASAN
Telur-telur belut yang dikeluarkan oleh belut betina dan telah dibuahi oleh belut jantan biasanya  akan dijaga oleh belut jantan hingga menetas atau sekitar  8-15 hari. Telur akan menetas jika kondisi habitat cocok dan tidak ada gangguan seperti hama dan penyakit. Kondisi habitat yang cocok  untuk penetasan belut antara lasin adalah suhu berkisar 28-31 C dan Ph air  normal antara 6-7. Dari seluruh telur yang dihasilkan oleh induk, biasanya yang berhasil menetas antara50-70%. Dari anak belut yang menetas, yang mampu bertahan hidup antara 50-80% saja.

G.    LANGKAH 7: PEMELIHARAAN BIBIT
Setelah telur-telur “dierami”, jika kondisi kolam dan sekitarnya cocok, teleur-telur tersebut akan menetas. Langkah selanjutnya adalah memelihara bibit belut hingga dapat dipastikan seluruh bibit belut aman dan dapat hidup berkembang hingga mencapai ukuran tertentu atau siap dipanen sebagai bibit belut.

H.    LANGKAH 8:PEMANENAN
Setelah mencapaiumur dan panjang tertentu, langkah selanjutnyaadalah melakukan pemanenan terhadap bibit belu. Sebelum melakukan pemanenan, sebaiknya pastikan bahwa bibit hasil panen sudah ada penampungannya atau calon pembelinya.
Penyortiran Belut

I.       LANGKAH 9: PENYORTIRAN
Penyortiran adalah proses yang harus dilakukan untuk memilih dan memilah belut berdasarkan kondisi dan ukuran belut. Bibit belut dipilih dan dipisahkan antara bibit belut yang sehat atau tidak cacat dan yang terindikasi sakit atau cacat. Selain itu, bibit belut juga harus disortir berdasarkan ukuran. Ukuran bibit belut yang beragam dikhawatirkan berpengaruh terhdap distribusi pakan dan kanibalisme yang mungkin timbul akibat kurangnya makan.

J.      LANGKAH10: KARANTINA
Karantina adalah proses yang dilakukan untuk mengembalikan kesegaran dan kenyamanan bibit belut setelahdilakukanpemanenan danpenyortiran. Selma masa karantina kita juga dapat mengamati kondisi dan perilaki bibit belut sehingga dapat diketahui bibit belut yang terindikasi sakit atau stress.

K.     LANGKAH 11: PENGEMASAN
Perlakuan pasca panen menentukan kualitas hasil panen. Salah satu perlakuan pasca panen adalah pengemasan bibit belut untuk dikirikan kepada pelanggan. Pengemasan dapat dilakukan dengan berbagai macam cara dan sarana sesuai dengan jarak tempuhdari kolam hingga ke tangan pelanggan. Kemasan dapat berupa ember, plastik, jerigen atau Styrofoam. Dalam pengemasan, perlu memperhatikan volume belut dan oksigen terlarut dibandingkan dengan besar kemasan, jarak, dan waktu tempuh pengiriman.

L.     LANGKAH 12: PENGIRIMAN
Setelah bibit belut dimasukkan kedalam mediakemasan dan siap kirim, langkah berikutnya adalah pengiriman ke pelanggan. Pengiriman dapat dilakukan dengan berbagai sarana tergantung dari jarak tempuhnya. Sebaiknya, pengiriman dilakukan pada sore hari dengan kendaraan tertutup dan diperlakukan dengan sebaik-baiknya selama dalkam perjalanan.

M.   LANGKAH 13: EVALUASI
Setiap kegiatan harus dilakukan sesuai dengan rencana yang dibuat dan dilakukan evaluasi untuk melihat tingkat keberhasilan dari kegiatan tersebut. Dengan demikian, dapat dilakukan perbaikan-perbaikan pada waktu yang akan datang. 

Sekian artikel tentang 13Langkah Usaha Pembibitan Belut, semoga bermanfaat bagi sahabat budidaya dan ternak sekalian.


Sumber: Usaha Pembibitan Belut di Lahan Sempit (M. Fajar Junariyata) 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "13 Langkah Sukses Usaha Pembibitan Belut"

Post a Comment